Ini Masih Hangat :
Selamat datang di Blogku Dududth Blog | Jangan Lupa berkunjung Ke Website Baru saya ya, ayo ayo :D jangan lupa dibaca juga loh di Bahrul.com | Dijamin gak rugi kok. Jangan lupa ya kunjungi website saya yang Bahrul.com | Thanks kaka :)

Wednesday, 5 October 2011

Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

Masuk dan Berkembangnya Agama Islam di Indonesia

1. Bukti-Bukti Masuknya Islam di Indonesia

Agama Islam lahir di Kota Mekah, Arab Saudi. Agama Islam disebarkan oleh Nabi Muhammad saw. Proses masuk dan berkembangnya agama Islam di Indonesia sejalan dengan perdagangan dan pelayaran. Agama Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh pedagang dari Arab, Persia, dan Gujarat (India).

Ada beberapa pendapat yang menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia, antara lain sebagai berikut.
a. Agama Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 M. Pen­dapat ini didasarkan pada berita dari pedagang Arab yang telah menjalin hubungan dagang dengan Indonesia pada masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 M.
b. Agama Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-11. Pen­dapat ini didasarkan pada penemuan nisan makam Fatimah binti Maimun di Leran, Gresik, Jawa Timur yang berangka tahun 1082 M.
c. Agama Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-13. Pen­dapat ini didasarkan pada berita Marcopolo (1292 M) dan batu nisan makam Sultan Malik al-Saleh (1297 M).

2. Peranan Para Ulama dalam Penyebaran Agama Islam di Indonesia

Peranan ulama sangat besar dalam proses awal perkem-bangan Islam di Indonesia. Mereka sangat aktif menyebarkan agama Islam di berbagai wilayah di Indonesia. Para ulama yang sangat berjasa dalam penyebaran agama Islam di Jawa adalah Wali Sanga.


Adapun nama Wali Sanga adalah sebagai berikut:
1.   Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, berasal dari Persia.
2.   Sunan Ampel atau Raden Rahmat.
3.   Sunan Drajat atau Syarifudin (putra Raden Rahmat).
4.   Sunan Bonang atau Mahdum Ibrahim (putra Raden Rahmat).
5.   Sunan Giri atau Raden Paku (murid Sunan Ampel).
6.   Sunan Kalijaga atau Joko Said.
7.   Sunan Kudus atau Jafar Sidiq.
8.   Muria atau Raden Umar Said.
9.   Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.

Penyebaran agama Islam di Jawa selain dilakukan oleh Wali Sanga juga dilakukan oleh para ulama, seperti Syekh Bentong (berdakwah di sekitar Lawu), Sunan Bayat (berdakwah di Klaten), Sunan Panggung (berdakwah di Tegal), Syekh Abdulmulyi (berdakawah di Tasikmalaya), Sunan Sendang Duwur, dan Sunan Prapen (di Daerah Sendang Duwur Lamongan). Dakwah Islam itu juga dilakukan oleh beberapa ulama besar, seperti Dato'ri Bandang di daerah Gowa Makassar; Dato' Sulaeman di daerah Sulawesi Tengah dan Utara; Tuan Tunggang ri Parangan di Kalimantan Timur.

Islam berkembang di Indonesia melalui saluran perdagangan, dakwah, pernikahan,pendidikan  (pesantren), dan kesenian (pertunjukan wayang). Melalui cara-cara tersebut agama Islam cepat berkembang di Indonesia. Beberapa faktor yang mendorong Islam berkembang dengan cepat di Indonesia, antara lain:
1.        Islam tidak mengenal kasta atau pembagian masyarakat;
2.        Syarat untuk masuk Islam sangat mudah;
3.        Upacar keagamaan dalam Islam lebih sederhana;
4.        Semua manusia mempunyai kedudukan sama;
5.        Penyebaran Islam dilakukan melalui cara yang damai;
6.        Penyebaran Islam didukung oleh para raja atau tokoh lokal yang dihormati rakyat.

3. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

1. Kerajaan Samudra Pasai
Samudra Pasai terletak di sebelah utara Perlak, Aceh. Samudra Pasai merupakan gabungan dari dua kerajaan, yaitu Kerajaan Samudra dan Kerajaan Pasai. Kerajaan Samudra Pasai didirikan oleh Malik al-Saleh (Marah Silu).

2. Kerajaan Aceh Darussalam
Kerajaan Aceh didirikan oleh Sultan Ibrahim atau Ali Mughayat Syah (1514-1523). Kerajaan Aceh mencapai zaman kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Pada masa pemerintahannya, disusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Mahkota Alam. Kekayaan Kerajaan Aceh berasal dari hasil perkebunan alam lada. Kerajaan Aceh mulai mengalami kemunduran sejak masa pemerintah Sultan Iskandar Thani.


3. Kerajaan Demak

Demak pada mulanya adalah daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Ketika Majapahit runtuh, Demak memisahkan diri. Kerajaan Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah (Putra Raja Brawijaya V dari Majapahit).
Raja-raja yang pemah memerintah di Demak yaitu:
1.   Raden Patah (Sultan Alam Akbar Al Fatah);
2.   Pati Unus (Pangeran Sabrang Lor);
3.   Sultan Trenggana.

Sultan Trenggana adalah raja terbesar Demak. Pada masa pemerintahan Sultan Trenggana, muncul pemimpin perang yang sangat terkenal, yaitu Fatahillah. Fatahillah berhasil mengamankan Banten dan Sunda Kelapa (Jayakarta atau sekarang Jakarta) dari pengaruh Portugis.

Setelah Sultan Trenggana wafat, Demak mulai mengalami keruntuhan. Demak runtuh setelah terjadi konflik perebutan kekuasaan antara keturunan Sultan Trenggana dan keturunan Pangeran Sekar Sedolepen. Jaka Tingkir yang berhasil memadamkan konflik tersebut memindahkan pusat Kerajaan Demak ke daerah Pajang.

4. Kerajaan Pajang

Kerajaan Pajang didirikan oleh Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Berdirinya Kerajaan Pajang bermula dari peristiwa pertempuran antara Arya Penangsang (Putra Pangeran Sekar Sedolepen) dan Jaka Tingkir. Dalam pertempuran tersebut, Jaka Tingkir berhasil membunuh Arya Penangsang atas bantuan Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Penjawi, dan Sutawijaya (Anak Ki Ageng Pemanahan). Selanjutnya, Jaka Tingkir memindahkan pusat kekuasaan Kerajaan Demak ke Pajang. Setelah manjadi raja, Jaka Tingkir mengangkat Ki Ageng Pamanahan menjadi bupati di Mataram (Mentaok). Ki Ageng Penjawi diangkat menjadi bupati Pati, dan Sutawijaya dijadikan anak angkat.

Keberadaan Kerajaan Pajang tidak bertahan lama. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat, di Pajang terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Benawa (anak Sultan Hadiwijaya) dan Arya Pangiri (Bupati Demak). Atas bantuan Sutawijaya, Arya Pangiri berhasil dikalahkan. Selanjutnya, Pangeran Benawa menyerahkan takhta Kerajaan Pa­jang kepada Sutawijaya. Oleh Sutawijaya, pusat pemerintahan kerajaan dipindahkan ke Mataram.

5. Kerajaan Mataram

Setelah berhasil memindahkan pusat kerajaan, Sutawijaya dinobatkan menjadi Raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. la memerintah Mataram mulai tahun 1586. Pada tahun 1601, Panembahan Senapati wafat dan posisinya digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang. Pemerintahan Mas Jolang tidak berlangsung lama. Pada tahun 1613, ia wafat. Selanjutnya, posisinya di­gantikan oleh putrahya yang bemama Mas Rangsang atau Sultan Agung.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung, Mataram mencapai puncak kejayaan. Sul­tan Agung pernah memerintahkan pasukannya untuk menyerang VOC di Batavia pada tahun 1628 dan 1629. Namun, penyerangan tersebut mengalami kegagalan karena lumbung padi/logistik pasukan Mataram dibakar oleh VOC.

Pada masa kekuasaan Sultan Agung berkembang kesusastraan Jawa. Karya sastranya yang terkenal berjudul Sastra Gending. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri. Setelah Sultan Agung wafat, Kerajaan Mataram mulai mengalami kemunduran.

6. Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Pada awalnya, Cirebon merupakan bagian dari kekuasaan Demak. Namun, Cirebon dapat melepaskan diri dari kekuasaan Demak dan berdiri sebagai kerajaan yang merdeka, Kerajaan Cirebon berkembang sebagai pusat perdagangan dan pusat penyiaran agama Islam di daerah Jawa Barat.

Pemerintahan Sunan Gunung Jati di Cirebon tidak berlangsung lama karena beliau lebih menekuni bidang keagamaan. Setelah menyerahkan takhta kerajaan kepada cucunya yang bernama Panembahan Ratu, Sunan Gunung Jati segera mengundurkan diri dan menyepi di Gunung Jati.

Pada tahun 1679, Cirebon terbagi menjadi dua kekuasaan, yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Pada perkembangan selanjutnya, Kanoman kembali dibagi menjadi dua kuasaan, yaitu Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan. Pada akhir abad ke-17, Cirebon berhasil dikuasai VOC.

7. Kerajaan Banten

Sebelum menjadi kerajaan Islam, Banten merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Peletak dasar Kerajaan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Kerajaan Banten muncul sebagai negara merdeka setelah melepaskan diri dari Demak. Rajanya yang pertama adalah Sultan Hasanuddin (1551-1570).

Setelah Sultan Hasanuddin mangkat pada tahun 1570, Banten diperintah oleh Panembahan Yusuf. Pada tahun 1579, Panembahan Yusuf berhasil menaklukkan Pakuan dan Kerajaan Pajajaran.

Raja Banten selanjutnya adalah Maulana Muhammad yang bergelar Kanjeng Ratu Banten. Maulana Muhammad gugur dalam penyerangan ke Palembang. Pengganti Sultan Maulana Muhammad adalah putranya yang bemama Abdul Mufakir. Pada masa pemerintahan Abdul Mufakir, armada Belanda yang dipimpin Comelis de Houtman tiba di Banten.

Banten mengalami zaman kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, Banten dilanda perang saudara. Sultan Ageng Tirtayasa terlibat perang dengan putranya yang bemama Sultan Abdul Kahar atau Sultan Haji yang bersekutu dengan VOC. Dalam perang ini, Sultan Ageng Tirtayasa berhasil dikalahkan oleh Sultan Haji dan VOC.



8. Kerajaan Makasar

Kerajaan Makassar merupakan gabungan dari Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo. Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo disatukan oleh Daeng Manrabia (Raja Gowa) dan Karaeng Mantoaya (Raja Tallo). Setelah bergabung, Daeng Manrabia diangkat menjadi Raja Makassar dengan gelar Sultan Alauddin (1591-1639). Sementara itu, Karaeng Mantoaya diangkat menjadi patih dengan gelar Sultan Abdullah. Pusat pemerintahan Kerajaan Makassar berada di Sombaopu.

Untuk memperluas wilayahnya, Makassar melakukan politik ekspansi ke wilayah lain. Akan tetapi, wilayah Bone, Wajo, dan Soppeng tetap sulit untuk ditaklukkan. Ketiga wilayah ini memperkokoh persatuannya dengan membentuk Tellumpocco atau Tiga Kekuasaan. Bone dianggap sebagai saudara tua, Wajo saudara tengah, dan Sop­peng saudara bungsu. Atas usaha keras yang dilakukan oleh Makassar, akhimya Tellum­pocco dapat ditaklukkan.

Pengganti Sultan Alaudin adalah Muhammad Said. Setelah Muhammad Said wa­fat, Makassar diperintah oleh Sultan Hasanuddin yang dikenal sebagai Ayam Jantan dari Timur. Sultan Hasanuddin membawa Kerajaan Makassar mencapai masa kejayaan. Sultan Hasanuddin berkeinginan menjadi penguasa tunggal dijalur perdagangan Indo­nesia Timur. Keinginan itu terhalang oleh VOC yang berkuasa di Maluku. Akibatnya, Makassar dan VOC sering terlibat peperangan.

Untuk menangkal ekspansi yang dilakukan Sultan Hasanuddin, VOC bekerja sama dengan Raja Bone, Am Palaka. Akhimya, VOC dapat merebut ibu kota Kerajaan Ma­kassar. Kekalahan yang diderita oleh Sultan Hasanuddin memaksanya untuk menan-datangani Perjanjian Bongaya. Setelah penandatanganan perjanjian tersebut, Kerajaan Makassar terns mengalami kemunduran dan akhimya jatuh ke tangan VOC.

9. Kerajaan Ternate

Kerajaan Ternate terletak di Maluku Utara. Ibu kota Kerajaan Temate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Kerajaan Temate mengalami perkembangan pesat karena wilayahnya banyak menghasilkan rempah-rempah. Rempah-rempah sangat dibutuhkan oleh para pedagang, baik dari Indonesia sendiri maupun asing.

Raja Temate yang pertama kali memeluk Islam adalah Zainal Abidin. Kerajaan Temate mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Wilayah kekuasaan Temate cukup luas hingga mencapai Filipina. Untuk melindungi wilayah­nya, Kerajaan Temate membangun armada laut yang kuat. Kerajaan Ternate berhasil membentuk Uli Lima atau persekutuan lima. Persekutuan ini dipimpin oleh Kerajaan Temate dengan anggotanya Obi, Bacan, Seram, dan Ambon.

10. Kerajaan Tidore

Kerajaan Tidore juga terletak di Kepulauan Maluku. Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Wilayah Kerajaan Tidore cukup luas, yaitu meliputi Pulau Seram, Pulau Halmahera, Kepulauan Kai, dan Irian (papua).

Kerajaan Tidore berhasil membentuk Uli Siwa atau persekutuan sembilan untuk menandingi Uli Lima. Uli Siwa dipimpin oleh Todore dengan anggota Jailolo, Makyan, Kai, Pulau Raja Ampat, dan pulau-pulau di sekitar Papua.

Kerajaan Tidore dan Kerajaan Temate semula hidup berdampingan. Namun, keduanya terlibat perang setelah bangsa Portugis dan Spanyol masuk ke Maluku. Bangsa Portugis yang datang ke Maluku pada tahun 1512 bersahabat dengan Kerajaan Ternate Sementara itu, Spanyol yang datang pada tahun 1522 bersahabat dengan Kerajaan Tidore. Konflik antara Portugis dan Spanyol tersebut akhimya diselesaikan melalui Perjanjian Saragosa. Menurut isi perjanjian tersebut, Spanyol diwajibkan keluar dari Maluku dan diberi hak untuk berkuasa di Filipina. Portugis diberi hak untuk berkuasa di wilayah Maluku.

Peninggalan Sejarah Bercorak Islam di Indonesia

1. Masjid
Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Letak masjid kuno biasanya berada di sebelah barat alun-alun keraton. Arsitektur masjid-masjid kuno di Indonesia mempunyai ciiri khusus, yaitu beratap tingkat. Gaya arsitektur masjid beratap tingkat tersebu merupakan ciri khas bangunan candi. Beberapa peninggalan bersejarah Islam di Indonesia yang berupa masjid kuno, antara lain Masjid Demak, Masjid Sendang Duwur (Tuban), Masjid Agung Kasepuhan (Cirebon), Masjid dan Menara Kudus, Masjid Baiturrahman Aceh, dan Masjid Sunan Ampel di Surabaya.

2. Makam  dan Nisan

Makam-makam peninggalan zaman Islam, antara lain makam Sunan Gunung Jati di Cirebon (Jawa Barat), makam Sunan Tembayat di Klaten (Jawa Tengah), makam Troloyo di Mojokerto (Jawa Timur), dan makam raja-raja Mataram di Imogiri, Yogyakarta. Nisan-nisan kuno peninggalan zaman Islam, antara lain nisan makam Sultan Malik Al Saleh dari Samudra Pasai yang berangka tahun 1297 M, nisan makam Fatimah Binti Maimun di Leran (Gresik) yang berangka tahun 1082 M, dan nisan makam Maulana Malik Ibrahim yang berangka tahun 1419 M di Aceh Utara.

Keraton merupakan tempat tinggal raja atau sultan bersama keluarganya. Keraton juga berfungsi sebagai tempat pertemuan antara raja dan para pejabat kerajaan. Peninggalan sejarah berupa bangunan keraton, antara lain Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman di Cirebon, Keraton Kesultanan Aceh, Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta, Istana Raja Gowa, Istana Mangkunegaran, dan Istana Pakualaman.

3. Kaligrafi

Kaligrafi adalah seni melukis indah dalam bentuk tulisan Arab. Seni kaligrafi muncul dan berkembang karena adanya larangan dalam agama Islam untuk menggam-barkan sesuatu makhluk hidup sesuai bentuk aslinya. Seni kaligrafi mempunyai pola tertentu, misalnya pola tumbuhan dan pola makhluk hidup. Seni kaligrafi biasanya ba-nyak terdapat pada dinding-dinding masjid,* terutama pada bagian mihrab dan menara.

4. Seni Pertunjukan

Pada masa Islam, muncul seni pertunjukan yang berhubungan dengan upacara-upacara keagamaan. Upacara-upacara keagamaan yang sampai sekarang masih dilaksanakan adalah perayaan Garebeg Suro, garebek besar dan garebek maulid (sekaten). Selain sekaten, peninggalan seni pertunjukan Islam adalah tari Seudati di Aceh dan permainan Debus di Banten.

5. KaryaSastra

Tokoh pemikir sastra Islam di Indonesia yang terkenal adalah Hamzah Fansyuri dan Nuruddin ar Raniri di Sumatera. Buku-buku karya Hamzah Fansyuri banyak memuat ajaran tasawuf. Hasil karya sastra Hamzah Fansyuri adalah Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai. Buku-buku karya dari Nuruddin ar Raniri adalah Bustanus Salatin dan Sirotol Mustaqim.

Dilihat dari corak dan isinya, kesusastraan Islam yang berkembang di Indonesia dapat dibedakan dalam beberapa jenis sebagai berikut.
a. Hikayat
Contoh peninggalan hikayat, antara lain Hikayat Hang Tuah, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, Hikayat Bahtiar, dan Hikayat Si Miskin.
b. Babad
Contoh peninggalan berupa babad, antara lain Babad Giyanti dan Babad Tanah Jawi.
c. Suluk
Suluk adalah kitab-kitab yang menerangkan masalah tasawuf.
Contoh beberapa jenis kitab siiluk:
1. Suluk Sukarsa, menceriterakan seseorang (Ki Sukarsa) yang mencari ilmu untuk mendapatkan kesempumaan.
2.  Suluk Wujil, berisi wejangan-wejangan sunan Bonang kepada Wujil (wujil adalah seorang yang kerdil dan bekas abdi raja Majapahit)
3.  Suluk Malang Sumirang, berisi pujian dan mengungkapkan seseorang yang telah mencapai kesempumaan dan bersatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.

6. Taman dan Pemandian
Beberapa taman dan pemandian yang masih ada hingga sekarang, yaitu
a. Taman Sunyoragi di Cirebon;
b. Taman Sari di Yogyakarta.

7. Pintu Gerbang atau Benteng/Baluwarti

Setiap keraton dilengkapi dengan pintu gerbang dan benteng. Pintu gerbang ber-bentuk padurasa dan candi bentar (belahan) banyak ditemukan di keraton. Selain itu, berapa pintu gerbang yang bersifat lokal. Misalnya pintu Semar Tinadu dan Semar Pinondong serta beberapa bentuk pintu yang disebut lawang dan plengkung (Misalnya Plengkung Gading di Yogyakarta). Peninggalan berupa benteng yang masih ada sampai sekarang ialah di Keraton Yogyakarta, Surakarta, Kanoman, dan Kasepuhan.

8. Pesanggrahan

Pesanggrahan adalah tempat sementara sebelum seorang raja mendirikan keraton. Misalnya, pesanggrahan petilasan Ambarketawang, Yogyakarta. Pesanggrahan juga merupakan tempat tinggal raja setelah turun tahta. Misalnya, pesanggrahan Ambarukmo.

0 comments:

Post a Comment